12/31/2013

HAPPY NEW YEAR (!)

Selamat malam! Happy new year!!! Bye 2013 and welcome 2014

2013 memberikan saya begitu banyak pelajaran. Mulai dari kesedihan, kekecewaan, hingga kebahagiaan semua saya rasakan di 2013. Berikut list pelajaran yang saya dapat di 2013:

1. Pelajaran betapa berharganya keluarga,
2. Pelajaran untuk lebih hati-hati dalam memilih teman,
3. Pelajaran untuk menjaga omongan,
4. Pelajaran untuk tidak sepenuhnya percaya pada orang lain,
5. Pelajaran untuk lebih sigap dan tanggap
6. Pelajaran kalau ternyata cowok2 korea walaupun ganteng mereka nggak 'melambay'

Sebenernya masih banyak lagi cuma emang males ngingetnya sih hahaha. Buat poin ke enam itu memang perubahan paling drastis saya. Saya yang tadinya anti-korea-banget berubah jadi sukaaaaaaa.

Selain saya mendapatkan beberapa pelajaran berharga di tahun 2013, sesungguhnya ada beberapa hal yang saya sesali juga sih terutama mengenai ibadah saya. Di tahun 2013 ini saya terbilang tidak banyak membaca al-Quran dan puasa sunnah jika dibandingkan tahun2 sebelumnya. Sedih sih, dan semoga bisa diperbaiki di 2014 :").

Nggak afdol kayaknya kalau tahun baru nggak bikin wish list dan resolusi (padahal terakhir bikin pas jaman smp), jadi mari kita bikin! Here we go!!
1. Lulus sidang skripsi, osce dan cbt kompre dengan nilai bagus
2. Yudisium, Koass dan Wisuda tepat waktu
3. Dapet temen koass yang kompak dan koassnya dilancarkan
4. Bisa menghasilkan uang sendiri (bikin usaha)
5. Pengen travelling kalo ada waktu :")
6. Lebih rajin solat, ngaji dan puasa sunnah
7. Lebih sering telpon bunda
8. Adem ayem awet sama Yudha :3
9. Punya waktu paling nggak 1 minggu sekali buat pilates

Sudah sudah... gamau kebanyakan wishlist, hahaha. Semoga 2014 menjadi tahun yang baik ya Allah. Berikan selalu Rahmat-Mu, aaamiiiinnn....

Udah kedengeran bunyi petasan, kembang api sama terompet, hahaha so officially HAPPY NEW YEAR 2014!!!! May Allah always bless us, aamiiiinnn.
Nighty night ppl :*


11/11/2013

Blabber-ing

Have you tired of something? Something that you couldn't leave. You stick into it and you can't go. But you just tired... so f**king tired. Have you?

Sekarang saya benar-benar sedang mengalami itu. Saya 100% extrovert. Saya biasa blak-blakan ketika sesuatu tidak sesuai dengan diri saya. Itu bagian dari diri saya yang memang tidak bisa dipungkiri, hanya saja sedikit demi sedikit saya mulai belajar menahan agar tidak se'vokal' dulu. Saya belajar dari para introvert bagaimana mengendalikan diri. Tapi tentu saja ketika sifat dasar saya muncul di saat tidak terduga menurut saya itu bukanlah dosa besar. Tampaknya itu yang kurang dipahami para introvert.

Bagi kami, manusia-manusia exrtrovert, menahan diri untuk tidak berargumen dengan orang membutuhkan usaha yang besar. SANGAT BESAR! Dan saya sedang sangat jenuh belajar menjadi seorang penyabar. Jenuh sekali. Sampai-sampai saya muak. Terlalu muak.

So, should I still holding on? Hahaha unfortunately, yes I should. This will drive me to be a better person, but in fact the road is not as good as in my imagination.

Stay healthy Rizni! Live your f**king life. You need more energy for the finish line *sigh*



9/26/2013

I Know How It Felt

Selamat malam... Baru saja saya mendapat berita duka dari salah satu teman saya di SMA. Ayahnya baru saja meninggal dunia. Dan yang cukup membuat saya terpaku adalah kenyataan bahwa besok pagi teman saya harus sidang untuk gelar sarjananya di kota yang berbeda. Entah, saya jadi begitu sedih...

Saya ingat masa-masa itu. Saat di mana ayah saya pergi menghadap Allah...

Hari itu saya masih semester satu. Tinggal di perantauan tanpa saudara satupun. Saya begitu malas kuliah pagi. Entah, tapi rasanya enggan berangkat menuju kampus, hingga akhirnya kakak saya menelpon. Di telepon kakak saya memaksa agar saya segera pulang ke rumah karena ayah dalam kedaan kritis. Di belakang samar-samar saya mendengar tangisan bunda begitu kencang. Saya kaget dan terdiam. Ada sedikit rasa tidak percaya di hati saya, karena firasat saya mengatakan bahwa ayah sudah tidak ada. Bukan kritis. Tapi saya buang prasangka tersebut jauh2 dan segera bergerak pulang (walaupun pada akhirnya firasat saya memang benar).

Saya menghubungi sahabat-sahabat saya di kampus bahwa saya harus segera pulang. Akhirnya saya diantar hingga bandara dan sungguh kuasa Allah, saya cari semua penerbangan tercepat dan hanya tersisa satu kursi di Sriwijaya sekita pukul 11 pagi. Saya menunggu di bandara sendiri sekitar 2 jam. Hanya duduk dan termenung. Ayah telah tiada...

Sesampainya di Jakarta saya dijemput oleh beberapa sahabat bunda. Saat itu hujan sangat deras. Begitu sampai di depan rumah, hujan mulai berubah menjadi rintikan gerimis, dan awan mulai teduh kembali. Sekali lagi sungguh kuasa Allah.

Saya datang tanpa kata apa2. Saat saya tiba, ayah telah dimandikan. Wajah beliau sungguh bersih. Beberapa saudara mengatakan bahwa mata ayah belum bisa menutup sempurna semenjak tadi. Baru setelah saya datang, mata ayah menutup dengan sempurna. Ayah menunggu saya...

Mulai dari kakak saya menelpon hingga tiba di rumah tidak ada satupun butir air mata meluncur di pipi saya. Bahkan ketika teman-teman saya datang, saya masih bisa bercanda dengan mereka. Entah kekuatan dari mana yang Allah berikan kepada saya.

Saat itu saya hanya berpikir untuk mengikhlaskan ayah. Bahwa ayah sudah cukup menderita dengan keluar masuk rumah sakit selama ini. Dan saya juga tidak ingin membuat bunda semakin pecah tangisannya.

Malamnya, saya menemani bunda bercerita mengenai ayah hingga larut. Kebiasaan untuk mengobrol hingga tengah malam sering kami lakukan bersama saat masih ada ayah, dan malam itu kami mengobrol tanpa beliau. Saat mengobrol dengan bunda saya masih ingat, beberapa kali mata saya panas dan suara saya bergetar menahan tangis. Saya hanya ingin menguatkan bunda, maka saya tahan semua air mata saya.

Ketika sendirian dan bersimpuh di hadapan Allah, air mata saya mendesak keluar. Bagaimana bisa saya menampung berjuta-juta butiran air mata. Ternyata saya memang manusia biasa. Saya ingat betapa saya kangennya dengan ayah di malam sebelum beliau mengehmbuskan napas terakhirnya. Padahal saya termasuk jarang menelpon beliau duluan karena saya tidak ingin mengganggu istirahatnya. Di malam itu beliau berkata "Udah dulu ya kak, ayah capek... Sesak...". Dan saya menutup telepon dengan air mata di pipi saya.

Saya, yang selama ini dibilang sebagai replika ayah, adalah orang yang paling sering berdebat dengan beliau. Karena kesamaan sifat kami, justru kami sering saling bergesekan. Kami sama-sama keras kepala. Tapi saya sadar, di balik kerasnya ayah begitu banyak pelajaran yang beliau berikan. Bahkan ketika anak perempuan lain dimanja bak putri oleh ayahnya, ayah saya justru menempa saya menjadi seperti besi supaya saya jadi perempuan yang mandiri dan berprinsip. Dan saya bersyukur atas apa yang telah ayah berikan.

Dan sekarang saya di sini. Masih di perantauan untuk mencapai cita-cita saya. Cita-cita ayah juga. Saya mengetik postingan ini dengan air mata yang terus menggenang. Sering saya usap, tapi lebih sering saya biarkan mengalir perlahan. Saya tahu ayah sekarang sedang di samping Allah. Di tempat yang nyaman dan tanpa kesedihan :")

9/17/2013

This. Night.

Another late night. Hi you!
Seharusnya saat ini saya sedang belajar untuk tutorial besok. Tapi apadaya, rasa malas daritadi sibuk menghasut saya untuk tidak menyentuh buku.

Saya baru saja scrolling timeline dan tiba pada satu tweet. Tweet beberapa jam yang lalu (ya saya memang se'rajin' itu dalam scrolling timeline twitter). Tweet tersebut milik seseorang yang pernah ada di hidup saya. Tweetnya sama sekali tidak ada kaitannya dengan saya, tetapi setiap melihat dia di timeline saya pasti berhenti sejenak untuk sekedar membaca. Untuk sekedar tahu, sedang apa dia?

Orang yang saya ceritakan ini adalah orang yang pernah menangis-nangis di depan saya dan memohon agar saya tidak pergi. Orang yang bahkan saya sakiti karena keegoisan saya sendiri. Orang yang dengan tidak sengaja jatuh di lubang yang saya gali. 

Saya sama sekali tidak ada niat untuk menyakitinya hingga kami sampai di keadaan mau tidak mau saya harus menyakiti dia. Ya, saya sejahat itu. Tapi jangan pernah berpikir saya meninggalkan dia dengan perasaan begitu nyaman. Karena ketika sadar saya harus menyakiti seseorang, hati saya jauh lebih terluka.

Semenjak saya memutuskan untuk meninggalkan dia, entah kenapa saya menjadi jauh lebih peduli padanya. Kadang saya menunggu dia untuk muncul di home twitter. Atau kadang saya menunggu pesan rindu yang dulu masih sering dia kirimkan. Aneh? Memang.

Saya ingin tahu apakah dia masih mengingat saya? Apa dia masih merindukan saya seperti isi pesan yang dulu dia kirimkan? Apa dia benar-benar tidak bisa melupakan saya? Atau memang dia berusaha dengan sekuat tenaga hingga akhirnya dia mampu melupakan saya? Saya terlalu ingin tahu... atau saya cinta...?

Hingga akhirnya saya sadar di titik ini...

Saya sama sekali tidak mencintai dia. Dulu saya memang semudah itu meninggalkan dia. Pun kalau meninggalkan dia saya lakukan saat ini, perasaan saya tetaplah sama. Tapi ternyata satu hal yang lupa saya perhitungkan... Perasaan takut untuk dilupakan. Ya, perasaan ini yang membuat saya terus bertanya-tanya mengenai dia. Di satu sisi saya ingin dia mendapatkan hidupnya yang menyenangkan lagi seperti saat saya belum masuk ke hatinya. Tapi di sisi lain saya takut dilupakan oleh dia. Aneh...

Saya tidak tahu mengapa saya begini. Hanya karena saya tidak pernah melupakan orang-orang yang pernah singgah di hati saya, saya terkadang berasumsi bahwa orang lain akan melakukan hal yang sama. Mungkin hati saya terlalu lapang. Saya telah menempatkan beberapa orang di pojokan hati saya dengan segala kenangan tentang mereka. Cukup hal-hal manis saja yang saya simpan, sehingga sampai detik ini kenangan tersebut masih mampu membuat saya tersenyum kecil ketika mengingatnya. Termasuk mengenai dia...

Ah, setelah saya pikir-pikir memang apa yang saya rasakan ini wajar. Sudah sifat dasar manusia tidak ingin dilupakan. Buktinya manusia berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik. Membuat catatan sejarahnya untuk dikenang nanti.

Dan dari tweet miliknya malam ini, saya berasumsi bahwa dia telah menemukan kebahagiaannya kembali dan dengan sukses telah melupakan saya. Memang hal  itu yang selama ini saya harapkan agar saya tidak lagi merasa bersalah padanya. Untuk hal itu saya merasa sangat lega dan... sedih.


8/25/2013

Nggak Penting. Nggak Usah Dibaca.

Hai, sebetulnya saya lagi ngerjain skripsi yang masih ngambang nggak jelas. Tapi berhubung bosen, saya main2 di sini dulu yah. Yeay!

Aaaak aku kangen Y! Sesungguhnya sih baru hari Rabu sama Kamis kemarin ketemu huahahaha. Siapa sih Y? Hahaha masa gatau sih? Itu loh cowok yang rambutnya kayak kobochan, terus kalo ngelawak garing banget kayak kerupuk udang yang suka dijual di lampu merah =.= tapi aku sayang :3 *preett*

Udah nggak penting lah. Yang penting sekarang saya udah nggak ngantuk, jadi lanjutin ke skripsi dulu yah. Ciao!!  < 3


8/24/2013

Pagi-Pagi Random

Good morning world! Seperti yang saya tuliskan di judul, sekarang pagi dan sangat random.
Sudah hampir sebulan saya di rumah, lagi liburan. Dan hari ini adalah H min beberapa hari menuju kepulangan ke Bandar Lampung lagi demi menuntut ilmu.

Hari ini. Sabtu. Pagi-pagi. Random.
Saya abis baca tulisan salah satu teman SD saya. Di blognya dia share tentang persiapan pernikahannya, dan saya mulai merasa "Oh God gue bener2 udah masuk di usia nikah banget!" dan kemudian pikiran mendadak berkelana kemana-mana.

Sebenernya nggak cuma sekali ini saya dapet kabar teman yang hendak menikah. Sebelumnya teman sejawat saya di kampus juga ada yang baru melangsungkan lamaran. Reuni SD tahun lalu pun teman saya sudah ada yang menggendong anak. Bahkan mantan pacar saya jaman SMP juga kabarnya sudah menikah. Itu semua bener2 pertanda kalo saya sudah 'dewasa'.

Entah kenapa setiap mendengar ada teman yang menikah, saya memang iri. Tapi setelah pikiran saya kemana-mana, saya justru mendadak takut. Saya takut untuk dewasa. Waktu masih SD saya (dan mungkin kamu juga) ingin cepat2 beranjak dewasa, kuliah, bekerja, dan berkeluarga. But in this age, saya benar2 merasa belum siap untuk dewasa. Memang setelah mendengar tentang cerita teman2 saya yang mempersiapkan pernikahannya, it sounds so beautiful. Rasanya seru mempersiapkan printilan ini-itu. Tapi ketika dipikirkan lebih jauh.... saya tau saya belum siap.

A marriage is not only about become someone's wife. Pernikahan itu mengenai tanggung jawab seumur hidup. Dan tampaknya saya masih pesimis terhadap kemampuan saya sendiri dalam menanggung tanggung jawab tersebut.

Untungnya, saat ini saya kuliah pendidikan dokter. Paling tidak 2 tahun lagi baru jadi dokter (Insya Allah...), kemudian lanjut internship 1,5 tahun. Setiap orang punya jalan berbeda dan saya memilih untuk menyelesaikan studi saya, jadi dokter, baru memikirkan tentang pernikahan dan berkeluarga. Dan hingga semua goal saya tercapai saya masih punya waktu bersenang-senang dengan bagian diri saya yang masih kekanak-kanakan sebelum akhirnya saya siap untuk menjadi istri seorang pria yang hebat :).

6/03/2013

Mereka Bilang Cinta Itu Gila

Oh hai, seperti biasa inspirasi selalu datang ketika saya ingin terlelap. Sebelumnya saya minta maaf karena inspirasi yang datang di malam hari ternyata selalu random .-.

Di postingan kali ini saya mau cerita tentang pengalaman saya yang emang gak-penting-banget hahaha. Seperti yang ada di judul atas, banyak orang yang bilang kalo cinta itu gila. Kamu percaya? Kalo saya sih nggak (terus kenapa dijadiin judul?). Hahaha saya nggak percaya kalo cinta itu gila tapi kalo naksir itu bikin gila saya percaya 100%. Kenapa begitu? Soalnya yang bikin orang nekat itu ya naksir2an macemnya ABG, makanya ujung2nya bisa bikin gila. Kalo cinta menurut saya jauh lebih dewasa. Kalo kamu belum bisa bijaksana dalam mengendalikan perasaan berarti itu belum cinta. Cinta itu nggak nekat dan nggak gila. Cinta itu penuh pertimbangan, sorry kalo ada yang nggak sependapat sama saya :)

Oke balik ke cerita naksir2an, dulu waktu jaman SMA saya pernah naksir kakak kelas. Ah, saya inget banget muka kakak itu. Saya sampe stalking semua informasi tentang dia, mulai dari nomer hapenya, keadaan keluarganya, alamat rumahnya, daaaannnn semuanya. Saya hafal spot kesukaan dia di kantin. Saya tau jadwal olahraga kelas dia, jadi kalo dia lagi jam olahraga saya sering cabut kelas atau paling nggak ijin ke kamar mandi yang lama biar bisa ngeliat dia. Saya sampe ikutan ekskul band cuma demi bisa lebih deket sama dia. Tapi jangan tanya saya pernah sms dia atau nggak, karena jawabannya adalah NGGAK PERNAH! Saya bahkan kalo diajak ngomong sama dia kayak diajak ngomong sama hantu. Keringet dingin, pucet, mau muntah (saking senengnya). Creepy? Hahaha emang. Saya yang sekarang aja takut sama diri saya yang dulu. Atau mungkin malah sebagian dari kamu ada yang pernah kayak gini juga? Hahaha.

Nekat yah? Iya. Naksir2an jaman sekolah emang kayak gitu. Dan saya benar2 bersyukur pernah mengalami perasaan dan pengalaman seperti itu. Terlalu banyak cerita yang kalo saya inget2 nggak habis2 bikin senyum bahkan bikin geleng2 kepala. God, I miss my high school :''''

Well, I will shut my laptop down and off to bed. Bye people, have a nice dream :))

5/14/2013

Berani Keluar

"If your idealism doesn't fit with the system, just leave."

Saya mendengar itu dari kuliah beberapa hari yang lalu. Ya, saya sangat setuju dengan ungkapan tersebut. Mengapa harus memaksakan idealisme dan prinsip kita dalam suatu keadaan yang nggak cocok sama sekali.

Kamu pernah nge-geng jaman SMA? Atau mungkin sampai sekarang? Selamat dulu buat kamu, karena kamu sudah mendapatkan lingkaran yang cocok UNTUK SAAT INI. Capslock saya nggak rusak, tapi memang sengaja saya ketik pake huruf kapital. Kenapa 'cuma' untuk saat ini? Well, kamu tau bahwa manusia tumbuh? Kemampuan analisis manusia nggak akan pernah berhenti. Kita akan tumbuh dewasa, dan seiring dengan pendewasaan kamu akan semakin sadar mengenai idealisme kamu. Sayangnya ketika kamu tumbuh di satu lingkaran, kamu belum tentu tumbuh berbarengan dengan lingkaran kamu tersebut. Sehingga idealisme mu yang baru belum tentu cocok dengan lingkaranmu saat ini. Kamu akan mulai mengkritisi sistem yang ada di lingkaran. Kamu akan mulai banyak mengeluh dan merasa tidak nyaman. Dan satu-satunya yang harus kamu lakukan memang KELUAR.

Nggak perlu takut. Kamu mungkin sebelumnya terbiasa 'bersama-sama', sehingga kamu ragu untuk mulai berjalan sendiri. Kamu nggak akan benar-benar sendiri, karena kamu sama seperti manusia lainnya, makhluk sosial. Kamu hanya butuh komunikasi untuk tetap hidup. Nggak perlu "Forever Friends" layaknya kartun beruang yang suka jadi gambar di stationary, cukup menjalin hubungan baik sama semua orang. Nggak mudah memang, tapi selama kamu bersikap positif pasti orang-orang akan merespon positif ke kamu.

So, berani pindah? Berani keluar lingkaran? :)

5/11/2013

Malam dan Random

Oh haaii akhirnya saya menyentuh blogspot lagi. Saya sedih setelah baca tulisan-tulisan jaman dulu. Bisa-bisanya saya ninggalin blog begitu aja. Ya mungkin yang saya mau tulis bukan hal yang penting sih, mengingat ini udah jam 3 pagi. Saya nggak bisa tidur. Udah itu aja intinya, hahaha.

Well, mau cerita sedikit. Ini urusan klise hidup manusia. Tentang sahabat. Menurut kamu sahabat itu yang kayak apa sih? Karena jujur makin dewasa saya malah semakin bingung tentang konsep sahabat. Jaman-jamannya SD sampe SMA mah gampang. Kalo main bareng terus-terusan, galau-galauan bareng, nangis-nangis bareng itu udah disebut sahabat. Terus ngetren banget tuh bahasa "urusan lo berarti urusan gue juga. Pokoknya lo gak akan sendirian!" (ngomongnya sambil ada penekanan-penekanan tertentu ala anak gaul gitu). Terus makin gede gini saya makin mikir, konsep sahabat kayaknya nggak sesederhana itu. Sahabat bukan lagi orang-orang yang bisa ngelindungin kamu dari jahatnya dunia. Emang mereka siapa? Saras 008? Panji millenium?

Sekarang saya memaknai sahabat sebagai orang yang selalu siap denger keluh-kesah kamu tanpa dia ikut campur. Sahabat itu gak perlu komentar ini-itu kalau gak diminta. Nggak perlu ngatur langkah kita. Dia, atau mereka, hanyalah orang yang selalu dengan ikhlas buka telinga. Dan memberikan pendapat kalau dibutuhin aja. Susah ya? Emang. Karena pada dasarnya manusia berfikir. Ketika mereka mendengar sesuatu otomatis otaknya langsung mencerna kata-kata yang didengar. Dan kebanyakan orang justru tidak mampu menahan pendapatnya. Disitulah kehebatan seorang sahabat. Dia nggak egois. Dia nggak sibuk mencoba memenangkan argumennya terhadap masalah kamu. Tapi justru fokus mendengar cerita kamu sampai kamu merasa lega.


Sering kali sebagai manusia kita hanya butuh untuk didengarkan.
Iya kan? :)