9/26/2013

I Know How It Felt

Selamat malam... Baru saja saya mendapat berita duka dari salah satu teman saya di SMA. Ayahnya baru saja meninggal dunia. Dan yang cukup membuat saya terpaku adalah kenyataan bahwa besok pagi teman saya harus sidang untuk gelar sarjananya di kota yang berbeda. Entah, saya jadi begitu sedih...

Saya ingat masa-masa itu. Saat di mana ayah saya pergi menghadap Allah...

Hari itu saya masih semester satu. Tinggal di perantauan tanpa saudara satupun. Saya begitu malas kuliah pagi. Entah, tapi rasanya enggan berangkat menuju kampus, hingga akhirnya kakak saya menelpon. Di telepon kakak saya memaksa agar saya segera pulang ke rumah karena ayah dalam kedaan kritis. Di belakang samar-samar saya mendengar tangisan bunda begitu kencang. Saya kaget dan terdiam. Ada sedikit rasa tidak percaya di hati saya, karena firasat saya mengatakan bahwa ayah sudah tidak ada. Bukan kritis. Tapi saya buang prasangka tersebut jauh2 dan segera bergerak pulang (walaupun pada akhirnya firasat saya memang benar).

Saya menghubungi sahabat-sahabat saya di kampus bahwa saya harus segera pulang. Akhirnya saya diantar hingga bandara dan sungguh kuasa Allah, saya cari semua penerbangan tercepat dan hanya tersisa satu kursi di Sriwijaya sekita pukul 11 pagi. Saya menunggu di bandara sendiri sekitar 2 jam. Hanya duduk dan termenung. Ayah telah tiada...

Sesampainya di Jakarta saya dijemput oleh beberapa sahabat bunda. Saat itu hujan sangat deras. Begitu sampai di depan rumah, hujan mulai berubah menjadi rintikan gerimis, dan awan mulai teduh kembali. Sekali lagi sungguh kuasa Allah.

Saya datang tanpa kata apa2. Saat saya tiba, ayah telah dimandikan. Wajah beliau sungguh bersih. Beberapa saudara mengatakan bahwa mata ayah belum bisa menutup sempurna semenjak tadi. Baru setelah saya datang, mata ayah menutup dengan sempurna. Ayah menunggu saya...

Mulai dari kakak saya menelpon hingga tiba di rumah tidak ada satupun butir air mata meluncur di pipi saya. Bahkan ketika teman-teman saya datang, saya masih bisa bercanda dengan mereka. Entah kekuatan dari mana yang Allah berikan kepada saya.

Saat itu saya hanya berpikir untuk mengikhlaskan ayah. Bahwa ayah sudah cukup menderita dengan keluar masuk rumah sakit selama ini. Dan saya juga tidak ingin membuat bunda semakin pecah tangisannya.

Malamnya, saya menemani bunda bercerita mengenai ayah hingga larut. Kebiasaan untuk mengobrol hingga tengah malam sering kami lakukan bersama saat masih ada ayah, dan malam itu kami mengobrol tanpa beliau. Saat mengobrol dengan bunda saya masih ingat, beberapa kali mata saya panas dan suara saya bergetar menahan tangis. Saya hanya ingin menguatkan bunda, maka saya tahan semua air mata saya.

Ketika sendirian dan bersimpuh di hadapan Allah, air mata saya mendesak keluar. Bagaimana bisa saya menampung berjuta-juta butiran air mata. Ternyata saya memang manusia biasa. Saya ingat betapa saya kangennya dengan ayah di malam sebelum beliau mengehmbuskan napas terakhirnya. Padahal saya termasuk jarang menelpon beliau duluan karena saya tidak ingin mengganggu istirahatnya. Di malam itu beliau berkata "Udah dulu ya kak, ayah capek... Sesak...". Dan saya menutup telepon dengan air mata di pipi saya.

Saya, yang selama ini dibilang sebagai replika ayah, adalah orang yang paling sering berdebat dengan beliau. Karena kesamaan sifat kami, justru kami sering saling bergesekan. Kami sama-sama keras kepala. Tapi saya sadar, di balik kerasnya ayah begitu banyak pelajaran yang beliau berikan. Bahkan ketika anak perempuan lain dimanja bak putri oleh ayahnya, ayah saya justru menempa saya menjadi seperti besi supaya saya jadi perempuan yang mandiri dan berprinsip. Dan saya bersyukur atas apa yang telah ayah berikan.

Dan sekarang saya di sini. Masih di perantauan untuk mencapai cita-cita saya. Cita-cita ayah juga. Saya mengetik postingan ini dengan air mata yang terus menggenang. Sering saya usap, tapi lebih sering saya biarkan mengalir perlahan. Saya tahu ayah sekarang sedang di samping Allah. Di tempat yang nyaman dan tanpa kesedihan :")

0 comments: