9/17/2013

This. Night.

Another late night. Hi you!
Seharusnya saat ini saya sedang belajar untuk tutorial besok. Tapi apadaya, rasa malas daritadi sibuk menghasut saya untuk tidak menyentuh buku.

Saya baru saja scrolling timeline dan tiba pada satu tweet. Tweet beberapa jam yang lalu (ya saya memang se'rajin' itu dalam scrolling timeline twitter). Tweet tersebut milik seseorang yang pernah ada di hidup saya. Tweetnya sama sekali tidak ada kaitannya dengan saya, tetapi setiap melihat dia di timeline saya pasti berhenti sejenak untuk sekedar membaca. Untuk sekedar tahu, sedang apa dia?

Orang yang saya ceritakan ini adalah orang yang pernah menangis-nangis di depan saya dan memohon agar saya tidak pergi. Orang yang bahkan saya sakiti karena keegoisan saya sendiri. Orang yang dengan tidak sengaja jatuh di lubang yang saya gali. 

Saya sama sekali tidak ada niat untuk menyakitinya hingga kami sampai di keadaan mau tidak mau saya harus menyakiti dia. Ya, saya sejahat itu. Tapi jangan pernah berpikir saya meninggalkan dia dengan perasaan begitu nyaman. Karena ketika sadar saya harus menyakiti seseorang, hati saya jauh lebih terluka.

Semenjak saya memutuskan untuk meninggalkan dia, entah kenapa saya menjadi jauh lebih peduli padanya. Kadang saya menunggu dia untuk muncul di home twitter. Atau kadang saya menunggu pesan rindu yang dulu masih sering dia kirimkan. Aneh? Memang.

Saya ingin tahu apakah dia masih mengingat saya? Apa dia masih merindukan saya seperti isi pesan yang dulu dia kirimkan? Apa dia benar-benar tidak bisa melupakan saya? Atau memang dia berusaha dengan sekuat tenaga hingga akhirnya dia mampu melupakan saya? Saya terlalu ingin tahu... atau saya cinta...?

Hingga akhirnya saya sadar di titik ini...

Saya sama sekali tidak mencintai dia. Dulu saya memang semudah itu meninggalkan dia. Pun kalau meninggalkan dia saya lakukan saat ini, perasaan saya tetaplah sama. Tapi ternyata satu hal yang lupa saya perhitungkan... Perasaan takut untuk dilupakan. Ya, perasaan ini yang membuat saya terus bertanya-tanya mengenai dia. Di satu sisi saya ingin dia mendapatkan hidupnya yang menyenangkan lagi seperti saat saya belum masuk ke hatinya. Tapi di sisi lain saya takut dilupakan oleh dia. Aneh...

Saya tidak tahu mengapa saya begini. Hanya karena saya tidak pernah melupakan orang-orang yang pernah singgah di hati saya, saya terkadang berasumsi bahwa orang lain akan melakukan hal yang sama. Mungkin hati saya terlalu lapang. Saya telah menempatkan beberapa orang di pojokan hati saya dengan segala kenangan tentang mereka. Cukup hal-hal manis saja yang saya simpan, sehingga sampai detik ini kenangan tersebut masih mampu membuat saya tersenyum kecil ketika mengingatnya. Termasuk mengenai dia...

Ah, setelah saya pikir-pikir memang apa yang saya rasakan ini wajar. Sudah sifat dasar manusia tidak ingin dilupakan. Buktinya manusia berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik. Membuat catatan sejarahnya untuk dikenang nanti.

Dan dari tweet miliknya malam ini, saya berasumsi bahwa dia telah menemukan kebahagiaannya kembali dan dengan sukses telah melupakan saya. Memang hal  itu yang selama ini saya harapkan agar saya tidak lagi merasa bersalah padanya. Untuk hal itu saya merasa sangat lega dan... sedih.


0 comments: